Hakikat Pembelajaran, Desain Pembelajaran, Analisis Kebutuhan, dan Analisis Karakteristik Siswa
A.
Hakikat
Pembelajaran
1.
Pengertian
pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran
merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan
ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap
dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah
proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses
pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun
dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran walaupun
mempunyai konotasi yang berbeda. Pembelajaran adalah pemberdayaan potensi
peserta didik menjadi kompetensi. Kegiatan pemberdayaan ini tidak dapat
berhasil tanpa ada orang yang membantu. Menurut Syaiful Sagala dalam Ahmar
(2012) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain
instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan
sumber belajar.
Dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal1 ayat 20 dinyatakan bahwa Pembelajaran adalah Proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar.
Konsep pembelajaran menurut Syaiful Sagala dalam Ahmar
(2012) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja
dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam
kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu,
pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun
meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas perlengkapan dan prosedur
yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran adalah
suatu usaha yang secara sadar yang dilakukan oleh siswa dengan guru untung
mencapai suatu tujuan.
2.
Komponen
pembelajaran
Ciri lain dari pembelajaran adalah yang berhubungan
dengan komponen-komponen pembelajaran. Sumiati dan Asra dalam Ahmar
mengelompokkan komponen-komponen pembelajaran dalam tiga kategori utama, yaitu:
guru, isi atau materi pembelajaran, dan siswa. Interaksi antara tiga komponen
utama melibatkan metode pembelajaran, media pembelajaran, dan penataan
lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi pembelajaran yang
memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
a.
Tujuan
Pembelajaran
Menurut H. Daryanto (dalam Ahmad 2012) tujuan
pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil
pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan
diukur.
b.
Materi
Pembelajaran
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, dkk (dalam Ahmad
2012) menerangkan bahwa materi pembelajaran adalah substansi yang akan
disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa materi pembelajaran proses
belajar mengajar tidak akan berjalan.
c.
Metode
Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau
menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk
mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan
siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Penggunaan metode
pembelajaran oleh guru memunkinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar baik
dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Agar metode pembelajaran yang
digunakan oleh guru cepat, guru harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu tujuan
pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber dan
fasilitas, situasi kondisi dan waktu.
d.
Media
Pembelajaran
Menurut
Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2009) mengklasifikasikan penggunaan media
berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu:
-
Penggunaan media
kelas
-
Penggunaan media
diluar kelas
e.
Evaluasi
Pembelajaran
Evaluasi
pembelajaran merupakan penilaian terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan
proses pembelajaran. Dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan
pembelajaran diketahui hasilnya. Evaluasi pembelajaran harus disusun dengan
tepat.
f.
Peserta didik/
Siswa
Siswa
merupakan komponen inti dari pembelajaran, maka dari itu siswa harus disiplin
belajar yang tinggi.
g.
Pendidik/ Guru
Guru
merupakan komponen utama yang sangat penting dalam proses pembelajaran karena
tugas guru bukan hanya sebagai fasilitator namun ada dua tugas. Kedua tugas itu
adalah sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
h.
Lingkungan
tempat belajar
Lingkungan
yang ditata dengan baik akan menciptakan kesan positif dalam diri siswa,
sehingga siswa menjadi lebih senang untuk belajar dan lebih nyaman dalam
belajar.
3.
Pengelolaan
tempat pembelajaran
Mengajar merupakan suatu aktivitas mengorganisasi
atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak
sehingga terjadi proses belajar mengajar. Tugas dan tanggung jawab seorang guru
adalah mengelola proses belajar mengajar yang selalu berusaha untuk
meningkatkan kualitas belajar.
Menurut Sumiati dan Asra dalam Ahmar (2012) peran guru
dalam pembelajaran yang dapat membangkitkan aktivitas siswa setidak-tidaknya
menjalankan tugas utama, berikut ini:
a.
Merencanaan
pembelajaran, yang terinci dalam empat sub kemampuan yaituperumusan tujuan pembelajaran,
penetapan materi pembelajaran, penetapan kegiatan belajar mengajar, penetapan
metode dan media pembelajaran, penetapan alat evaluasi
b.
Pelaksanaan
pengajaran yang termasuk di dalamnya adalah penilaian pencapaian tujuan
pembelajaran
c.
Mengevaluasi
pembelajaran dimana evaluasi ini merupakan salah satu komponen pengukur derajat
keberhasilan pencapaian tujuan, dan keefektifan proses pembelajaran yang dilaksanakan
d.
Memberikan umpan
balik. umpan balik mempunyai fungsi untuk membantu siswa memelihara minat dan
antusias siswa dalam melaksanakan tugas belajar.
Pembelajaran adalah
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar
terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, serta pemberian sikap dan
kepercayaan kepada peserta didik. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
adalah proses untuk membantu peserta didik dapat berjalan dengan baik.
B. Model Desain Pembelajaran
1.
Pengertian
desain pembelajaran
Sementara itu desain pembelajaran sebagai proses
menurut Syaiful Sagala dalam Yusyani adalah pengembangan pengajaran secara
sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran unuk menjamin
kualitas pembelajaran. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyusunan
perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran
yang dianut dalam kurikulum yang digunakan.
2.
Kriteria
desain instruksional, diantaranya :
a.
Berorientasi
pada siswa
Hal ini sangat penting, sebab desain pembelajaran dirancang untuk
mempermudah siswa belajar. Dengan demikian mendesain pembelajaran perlu diawali
dengan melakukan studi pendahuluan siswa.
b.
Berpijak
pada pendekatan sistem
Sistem adalah suatu kesatuan komponen yang saling berkaitan untuk mecapai
tujuan. Melalui pendekatan sistem, bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya,
akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan melalui
pendekatan sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin
dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan.
c.
Teruji
secara empiris
Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan
berbagai kendala yang mungkin muncul sehingga jauh sebelumnya dapat
diantisipasi.
3.
Desain
pembelajaran sebagai proses rangkaian kegiatan yang bersifat linear tersebut
digambarkan oleh Sambangh (2006).
a.
Menentukan
kebutuhan
b.
Pengembangan
desain untuk menjawab kebutuhan
c.
Uji coba
d.
Evaluasi hasil
(kembali lg ke menentukan kebutuhan)
Pada konteks pembelajaran, desain instruksional
dapat diartikan sebagai proses yang sistematis untuk memecahkan persoalan
pembelajaran melalui proses perencanaan bahan-bahan pembelajaran beserta
aktivitas yg harus dilakukan, perencanaan sumber-sumber pembelajaran yang dapat
digunakan serta perencanaan evaluasi keberhasilan. Pendekatan yg dapat
digunakan dalam desain pembelajaran adalah pendekatan sistem, yang mencakup
analisis tentang perencanaan, analisis pengembangan, analisis implementasi dan
analisis evaluasi. Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun
untuk membantu proses belajar siswa, dimana proses itu memiliki tahapan asegera
dan tahapan jangka panjang. Menurut Gagne, belajar seseorang dapat dipengaruhi
oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal.
a.
Faktor internal
adalah faktor yg berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari dalam
individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat dan
bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar.
b.
Faktor eksternal
adalah faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan penyediaan
kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain pembelajaran
berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan dan kondisi
yg memungkinkan siswa dapat belajar.
Desain instruksional
berkenaan dengan proses pembelajaran yg dapat dilakukan siswa untuk mempelajari
suatu materi pelajaran yg di dalamnya mencakup rumusan tujuan yg harus dicapai
atau hasil belajar yg diharapkan, rumusan strategi yg dapat dilaksanakan untuk
mencapai tujuan termasuk metode, teknik dan media yg dapat dimanfaatkan serta
teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan.
Mendesain pembelajaran harus diawali dengan studi kebutuhan, karena berkenaan
dengan upaya untuk memecahkan persoalan yg berkaitan dengan proses pembelajaran
siswa dalam mempelajari suatu bahan atau materi pembelajaran.
4.
Desain
pembelajaran sebagai proses sistemtis yang bersifat Linear Sambaugh 2006
5.
Beberapa contoh
dari model-model diatas akan diuraikan secara lebih jelas berikut ini:
a.
Model Dick and
Carrey
Salah satu model desain pembelajaran adalah model
Dick and Carey dalam Yusyani Model ini termasuk ke dalam model prosedural.
Langkah-langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah:
·
Mengidentifikasikan
tujuan umum pembelajaran.
·
Melaksanakan
analisi pembelajaran
·
Mengidentifikasi
tingkah laku masukan dan karakteristik siswa
·
Merumuskan
tujuan performansi
·
Mengembangkan
butir-butir tes acuan patokan
·
Mengembangkan
strategi pembelajaran
·
Mengembangkan
dan memilih materi pembelajaran
·
Mendesain dan
melaksanakan evaluasi formatif
·
Merevisi bahan
pembelajaran
·
Mendesain dan
melaksanakan evaluasi sumatif.
Langkah awal pada model Dick and Carey adalah
mengidentifikasi tujuan pembelajaran. Langkah ini sangat sesuai dengan
kurikulum perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya
dalam mata pelajaran tertentu di mana tujuan pembelajaran pada kurikulum agar
dapat melahirkan suatu rancangan pembangunan.
Penggunaan model Dick and Carey dalam pengembangan
suatu mata pelajaran dimaksudkan agar (1) pada awal proses pembelajaran anak
didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan hal-hal yang berkaitan
dengan materi pada akhir pembelajaran, (2) adanya pertautan antara tiap
komponen khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang
dikehendaki, (3) menerangkan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam
melakukan perencanaan desain pembelajaran.
b.
Model Kemp
Model Kemp termasuk ke dalam contoh model melingkar
jika ditunjukkan dalam sebuah diagram. Secara singkat, menurut model ini
terdapat beberapa langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu:
1)
Menentukan
tujuan dan daftar topik,menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap
topiknya;
2)
Menganalisis
karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
3)
Menetapkan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar;
4)
Menentukan isi
materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan;
5)
Pengembangan
prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan
terhadap suatu topik;
6)
Memilih
aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau
menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan
tujuan yang diharapkan;
7)
Mengkoordinasi
dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas,
perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
8)
Mengevaluasi
pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta
melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari
perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang
dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif
c.
Model ASSURE
Model
ASSURE merupakan suatu model
yang merupakan sebuah formulasi untuk Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM) atau
disebut juga model berorientasi
kelas. Menurut Heinich et al (2005) model ini terdiri atas enam langkah
kegiatan yaitu: nalyze Learners States Objectives Select Methods, Media, and
Material Utilize Media and materials Require Learner Participation Evaluate and
Revise Analisis Pelajar Menurut
Heinich et al
(2005) jika sebuah
media pembelajaran akan digunakan Secara baik dan
disesuaikan dengan ciri-ciri belajar, isi
dari pelajaran yang
akan dibuatkan medianya, media dan bahan pelajaran itu sendiri. Lebih
lanjut Heinich, 2005 menyatakan
sukar untuk menganalisis
semua cirri pelajar
yangada, namun ada tiga
hal penting dapat
dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai. berdasarkan ciri-ciri umum,
keterampilan awal khusus dan gaya belaja.
1)
Menyatakan Tujuan
Menyatakan tujuan
adalah tahapan ketika
menentukan tujuan pembelajaran baik berdasarkan buku
atau kurikulum. Tujuan pembelajaran akan
menginformasikan apakah yang sudah dipelajari anak
dari pengajaran yang
dijalankan. Menyatakan tujuan harus
difokuskan kepada pengetahuan,
kemahiran, dan sikap yang
baru untuk dipelajari
2)
Pemilihan
Metode, media dan bahan
Heinich
et al. (2005) menyatakan
ada tiga hal
penting dalam pemilihan metode, bahan dan
media yaitu menentukan
metode yang sesuai dengan
tugas pembelajaran,
dilanjutkan dengan memilih media
yang sesuai untuk melaksana kan
media yang dipilih, dan
langkah terakhir adalah
memilih dan atau mendesain media yang telah ditentukan.
3)
Penggunaan Media
dan bahan
Menurut
Heinich et al (2005) terdapat lima langkah bagipenggunaan media yang baik yaitu,
preview bahan, sediabahan,
sedikan persekitaran,
pelajar dan pengalaman pembelajaran.
4)
Partisipasi
Pelajar di dalam kelas
Sebelum pelajar
dinilai secara formal,
pelajar perlu dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran seperti memecahkan masalah, simulasi,
kuis atau presentasi.
5)
Penilaian dan Revisi
Sebuah media pembelajaran yang
telah siap perlu
dinilai untuk menguji keberkesanan dan
impak pembelajaran. Penilaian
yang dimaksud melibatkan beberapa aspek
diantaranya menilai pencapaian pelajar,
pembelajaran yang
dihasilkan, memilih metode dan media, kualitas
media, penggunaan guru dan
penggunaan pelajar.
d.
Model ADDIE
Ada satu model
desain pembelajaran yang
lebih sifatnya lebih generik
yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE
muncul pada tahun 1990-an
yang dikembangkan oleh Reiser
dan Mollenda.Salah satu
fungsinya ADIDE yaitu menjadi
pedoman dalam membangun
perangkat dan infrastruktu program pelatihan yang efektif,
dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Model ini menggunakan 5
tahap pengembangan yakni :
·
Analysis
(analisa)
·
Design (disain /
perancangan)
·
Development (pengembangan)
·
Implementation
(implementasi/eksekusi)
·
Evaluation (evaluasi/ umpan balik)
Langkah
1: Analisis
Tahap
analisis merupakan suatu
proses mendefinisikan apa
yang akan dipelajari oleh peserta
belajar, yaitu melakukan
needs assessment (analisis
kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis
tugas (task analysis). Oleh karena itu,
output yang akan kita hasilkan
adalah berupa karakteristik atau Profile calon peserta
belajar, identifikasi kesenjangan,
identifikasi kebutuhan dan analisis
tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.
Langkah 2: Desain
Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat
rancangan (blueprint). Ibarat bangunan, maka sebelum dibangun gambar rancang
bangun (blue-print) diatas kertas
harus ada terlebih
dahulu. Apa yang
kita lakukan dalam
tahap desain ini? Pertama
merumuskan tujuan pembelajaran yang
SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan
realistic). Selanjutnya menyusun
tes, dimana tes
tersebut harus didasarkan pada
tujuan pembelajaran yag
telah dirumuskan tadi.
Kemudian tentukanlah
strategi pembelajaran yang
tepat harusnya seperti
apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini ada
banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat kita pilih dan tentukan
yang paling relevan. Disamping itu, pertimbangkan pula sumber-sumber pendukung
lain, semisal sumber
belajar yang relevan, lingkungan belajar yang
seperti apa seharusnya,
dan lainlain. Semua
itu tertuang dalam
sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.
Langkah 3: Pengembangan
Pengembangan
adalah proses mewujudkan
blue-print alias desain
tadi menjadi kenyataan. Artinya,
jika dalam desain
diperlukan suatu software
berupa multimedia
pembelajaran, maka multimedia
tersebut harus dikembangkan.
Atau diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu
pula halnya dengan lingkungan belajar
lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya harus disiapkan dalam tahap ini. Satu
langkah penting dalam tahap
pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba ini
memang merupakan bagian dari salah satu
langkah ADDIE, yaitu
evaluasi. Lebih tepatnya
evaluasi formatif, karena hasilnya
digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran yang sedang kita kembangkan.
Langkah 4: Implementasi
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan
system pembelajaran yang sedang
kita buat. Artinya,
pada tahap ini
semua yang telah
dikembangkan diinstal atau diset
sedemikian rupa sesuai
dengan peran atau
fungsinya agar bisa
diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu maka software
tersebut harus sudah diinstal. Jika penataan lingkungan harus tertentu, maka
lingkungan atau seting tertentu tersebut juga harus ditata. Barulah
diimplementasikan sesuai skenario atau desain awal.
Langkah 5: Evaluasi
Evaluasi
adalah proses untuk
melihat apakah sistem
pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai dengan
harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa terjadi pada setiap
empat tahap di atas. Evaluasi yang
terjadi pada setiap empat tahap
diatas itu dinamakan
evaluasi formatif, karena
tujuannya untuk kebutuhan revisi. Misal,
pada tahap rancangan,
mungkin kita memerlukan
salah satu bentuk evaluasi formatif
misalnya review ahli untuk
memberikan input terhadap
rancangan yang sedang kita
buat. Pada tahap
pengembangan, mungkin perlu
uji coba dari produk
yang kita kembangkan
atau mungkin perlu
evaluasi kelompok kecil
dan lain-lain.
e.
Model Hanafin
and Peck
Model
Hannafin dan Peck
ialah model desain
pengajaran yang terdiri daripada
tiga fase yaitu fase
Analisis keperluan, fase
desain, dan fase pengembangan dan implementasi (Hannafin & Peck 1988).
Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu dijalankan dalam setiap
fase. Model ini
adalah model desain
pembelajaran berorientasi produk.
Fase
pertama dari model
Hannafin dan Peck
adalah analisis kebutuhan. Fase
ini diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dalam mengembangkan suatu
media pembelajaran termasuklah di
dalamnya tujuan dan
objektif media pembelajaran yang dibuat,
pengetahuan dan kemahiran
yang diperlukan oleh kelompok sasaran, peralatan dan
keperluan media pembelajaran. Setelah semua keperluan diidentifikasi Hannafin
dan Peck (1988) menekankan untuk
menjalankan penilaian terhadap hasil itu sebelum meneruskan pembangunan
ke fase desain.
Fasa yang kedua dari model Hannafin dan Peck adalah
fase desain. Di dalam fase ini
informasi dari fase
analisis dipindahkan ke
dalam bentuk dokumen
yang akan menjadi tujuan
pembuatan media pembelajaran. Hannafin
dan Peck (1988) menyatakan fase desain bertujuan untuk mengidentifikasikan dan
mendokumenkan kaedah yang paling
baik untuk mencapai
tujuan pembuatan media
tersebut. Salah satu dokumen
yang dihasilkan dalam
fase ini ialah
dokumen story board
yang mengikut urutan aktivitas
pengajaran berdasarkan keperluan
pelajaran dan objektif media pembelajaran
seperti yang diperoleh
dalam fase analisis
keperluan. Seperti halnya pada
fase pertama, penilaian
perlu dijalankan dalam
fase ini sebelum dilanjutkan ke fase pengembangan dan
implementasi.
Fase ketiga dari
model Hannafin dan
Peck adalah fase
pengembangan dan implementasi.
Hannafin dan Peck (1988) mengatakan
aktivitas yang dilakukan pada fase ini
ialah penghasilan diagram
alur, pengujian, serta
penilaian formatif dan
penilaian sumatif. Dokumen
story board akan
dijadikan landasan bagi
pembuatan diagram alir yang
dapat membantu proses
pembuatan media pembelajaran.
Untuk menilai kelancaran media yang dihasilkan seperti kesinambungan
link, penilaian dan pengujian dilaksanakan
pada fase ini.
Hasil dari proses
penilaian dan pengujian
ini akan digunakan dalam
proses pengubahsuaian untuk
mencapai kualitas media
yang dikehendaki.
f.
Model Banathy
Menurut Sanjaya (2008: 73) terdapat model desain
sistem pembelajaran dari Banathy berbeda
dengan model kemp. Model ini memandang
bahwa penyusunan sistem intruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang
jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran yaitu:
1)
Menganalisis dan
merumuska tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun tujuan spesifik.
Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta
didik.
2)
Merumuskan
kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes tahap ini
dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat meyakinkan
kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
3)
Menganalis dan
merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan mengiventarisasikan seluruh
kegiatan belajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada
serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan
4)
Merancang
sistem, yakni kegiatan menganalisi sistem menganalisis setiap komponenen
sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan
5)
Mengimplementasikan
dan melakukan control kualitas sistem , yakni
melatih sekaligus menilai efektifitas sistem, melakukan evaluasi
6)
Mengadakan
perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
g.
Model PSSI
(Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI
adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan
kurikulum 1975. PSSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan
program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru
dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
PSSI terdiri
dari 5 tahap, yakni:
1)
Merumuskan
tujaun, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam
perumusan tujuan ini yakni harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan
harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar,
berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu
bentuk tingkah laku.
2)
Mengembangkan
alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk
masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah rumusan
tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah
ditentukan.
3)
Mengembangkan
kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan
menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
4)
Mengembangkan
program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan
metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
5)
Pelaksanaan
program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran,
mengadakan psikotes dan melakukan perbaikan.
C.
Analisis
Kebutuhan
1.
Konsep Kebutuhan Pembelajaran
Analisis kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk
mengidentifikasi factor-faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran
guna memilih dan menentukan media yang tepat dan relavan mencapai tujuan
pembelajaran dan mengarah pada mutu pendidikan. Menurut Aderson analisis
kebutuhan (need assessment) diartikan
sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas.
Menurut Abidin (2007:61) Kesenjangan adalah sebuah
permasalahan yang harus dipecahkan karena itu kesenjangan dijadikan suatu
kebutuhan dalam merancang pembelajaran, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan
merupakan solusi terbaik. Menurut M. Atwi Suparman dalam Abidin (2007 : 61) kebutuhan
adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi
yang berbeda tapi sama. Morrison dalam Abidin (2007:61), mengatakan bahwa
kebutuhan (need) diartikan sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan
dengan kondisi yang sebenarnya, keinginan adalah harapan ke depan atau
cita-cita yang terkait dengan pemecahan terhadap suatu masalah. Sedangkan
analisa kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan
tindakan yang tepat. (Morrison dalam Abidin, 2007: 61)
Menurut
Morrison dalam Abidin (2007: 61-62) membagi fungsi analisa kebutuhan sebagai
berikut:
a. Mengidentifikasi
kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa
yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b. Mengidentifikasi
kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain
yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan
c. Menyajikan
prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
d. Memberikan
data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.
Ada
enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan
mengadakan analisa kebutuhan (Morrison
dalam Abidin, 2007: 62).
a. Kebutuhan
Normatif, Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, Ebtanas,
UMPTN, dan sebagainya.
b. Kebutuhan
Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain
yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.
c. Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau
keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan.
Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang
nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini
dengan cara interview.
d. Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan
yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang
mendaftar sebuah kursus.
e. Kebutuhan Masa Depan, Yaitu mengidentifikasi
perubahan-perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. Misal, penerapan
teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
f. Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu
faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal,
bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.
2. Melakukan
Analisis Kebutuhan
Analisis
kebutuhan terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan
mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah. Adapun tahapan
dalam langkah-langkah analisis kebutuhan meliputi:
a.
Pengumpulan
informasi
Dalam merancang pembelajaran pertama kali seorang
desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siswa dapat
mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala
apa yang akan dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu terhadap
karakteristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfaat dalam
menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam pemecahan
suatu masalah.
b.
Identifikasi
kesenjangan
Dalam identifikasi kesenjangan Kaufman dan English
(1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational Elements
Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen yang
saling berkaitan. Duaa elemen pertama, yaituj input dan proses adalah bagaimana
menggunakan setiap potensi dan sumber yang ada; sedangkan elemen terakhir
meliputi produk, output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses.
Kategori
kebutuhan seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh Kaufman seperti
gambar di bawah ini:
1)
Input
2)
Proses
3)
Produk
4)
Output
5)
Outcome
Komponen input,
meliputi kondisi yang tersedia pada saat ini misalnya tentang keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar,
kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses,
meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola
pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi,
perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku. Komponen
produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan dan sikap
yang dimiliki, serta kelulusan tes kompetensi. Komponen Output, meliputi ijazah
kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome meliputi kecukupan
dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan. Outcome
merupakan hasil akhir yang diperoleh. Melalui analisis hasil, desainer dapat
menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi pada pencapaian
tujuan. Inilah proses yang pada hakikatnya menentukan kesenjangan antara harapan
dan apa yang terjadi. Berdasarkan analisis itulah, desainer dapat mendeskripsikan
masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni input, proses, produk, dan
output.
c.
Analisis performance
Tahap ketiga dalam proses need assessment, adalah
tahap menganalisis performance. Menganalisis performance dilakukan setelah desainer memahami berbagai
informasi
dan
mengidentifikasi kesenjangan yang ada.
Ketika kita menemukan adanya kesenjangan, selanjutnya kita identifikasi
kesenjangan mana yang dapat dipecahkan
melalui
perencanaan pembelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan dengan cara lain,
seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan struktur organisasi yang lebih
baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan dan alat – alat. Untuk mennetukan
semua itu kita perlu memahami faktor – faktor penyebab terjadinya kesenjangan
dan pemahaman tersebut dapat dilakukan pada saat need assessment berlangsung.
Analisis
performance meliputi:
1)
Mengidentifikasi
guru
2)
Mengidentifikasi
saran dan kelengkapan penunjang
3)
Mengidentifikasi
berbagai kebijakan sekolah
4)
Mengidentifikasi
iklim sosial dan iklim sosiologi
Disamping semua unsur
tersebut, masih ada unsur lainnya yang perlu dianalisis, misalnya penerapan
hukuman dan ganjaran, sistem intensif yang diberikan baik pada guru maupun
siswa.
d.
Identifikasi
hambatan
Tahap keempat dalam need assessment adalah
mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Dalam
pelaksanaan suatu program berbagai kendala bias muncul sehingga dapat berpengaruh
terhadap kelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi, waktu
fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal, dan
organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang
terlibat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru-kepala sekolah, dan
siswa itu sendiri. Termasuk juga dalam unsure orang ini adalah unsure filsafat
atau pandangan yang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang dimilikinya.
Kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya meliputi
ketersediaan dan kelengkapan fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga,
berkaitan dengan jumlah pendanaan beserta pengaturannya
e.
Identifikasi
karakteristik siswa
Tahap kelima dalam need assessment adalah
mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah
memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang
berkaitan dengan siswa adalah bagian dari need assessment. Identifikasi yang
berkaitan dengan siswa di antaranya
adalah tentang usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat social
ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman dan sikap. Karakteristik
siswa seperti di atas, akan bermanfaat ketika kita menentukan tujuan yang harus
dicapai, pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran yang di anggap cocok,
serta untuk menentukan teknik evaluasi yang relevan.
f.
Identifikasi
prioritas, tujuan
Kaufman (1983) mendefinisikan need assessment sebagai suatu proses mengidentifikasi, mendokumentasi
dan menjustifikasi kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang akan
dihasilkan melalui penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan. Definisi
yang dikemukakan oleh Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin
dicapai. Oleh sebab itu, mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan
salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses need assessment. Tidak
semua kebutuhan menjadi tujuan dalam desain intruksional. Seorang desainer
perlu menetapkan kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggap mendesak untuk dipecahkan
sesuai dengan kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala prioritas dalam need assessment. Terdapat beberapa
teknik dalam menentukan skala prioritas dari data yang telah terkumpul.
Misalnya teknik perangkingan meliputi Teknik Delphi, Fokus Group Discussion,
Q-Sort, dan Storyboarding. Teknik-teknik ini digunakan untuk menjaring berbagai
tujuan yang dianggap perlu melalui penilaian para ahli yang terlibat pada diskusi.
Dengan demikian, rumusan tujuan benar-benar hasil suatu studi yang dibutuhkan
dan diperlukan untuk dipecahkan
g.
Merumuskan
masalah
Tahap akhir dalam proses analisis masalah adalah
menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain
intruksional. Penulisan masalah pada dasarnya merupakan rangkuman atau sari
pati dari permasalahan yang ditentukan. Pernyataan masalah harus ditulis secara
singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu-dua paragraf. Salah satu
format yang sederhana dikembangkan oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang
dinamakan dengan RUPS (Research Utilizing Problem Solving). Tujuan RUP adalah
merumuskan latar belakang dan konteks permasalahan, bagaimana tipe permasalahan
dan memberikan tujuan berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan. Teknik RUPS
merupakan teknik yang dianggap paling baik ketika kita ingin menjawab permasalahan
yang harus dipecahkan.
D.
Anlisis
karakteristik siswa
1.
Pengertian
karakteristik siswa
Menurut Syaiful Sagala dalam Awar dkk
(2011: 57) interksi antara peserta didi dan pendidik akan menghasilkan
kematangan yang tampak dari perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh ilmu
pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar. Sementara itu Samsudin
Makmum dalam Awar dkk (2011: 57-58) menjelaskan sacara rinci tentang perubahan
dalam konteks yang dilakukan siswa dapat bersifat fungsional atau structural,
material, behavioral, serta keseluruhan pribadi. Lebih jauh ditegaskan Syaiful
Sagala dalam Awar dkk (2011: 58) bahwa belajar adalah proses orang memproleh
berbagai kecakapan, keterampilan sikap sebagai akibat dari sejumlah tindakan
dan perilaku kompleks yang dialami oleh siswa dalam belajar.
2.
Karakteristik
siswa
Menrut
Awar dkk (2011: 59-62)Ada dua karakteristik awal siswa perlu dipahami oleh guru
yakni:
1)
Latar belakang
akademik
a.
Jumlah siswa
Guru
perlu mengetahui berapa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah
mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah
siswa akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media,
waktu yang dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk
mengetahui jumlah siswa, maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
b.
Latar belakang
siswa
Pemahaman
guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat
ekonomi, hobi dan lain sebagainya juga berpengaruh terhadap proses perumusan
perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang
siswa dapat diperoleh memalui pengisian biodata oleh siswa.
c.
Indeks prestasi
Indeks
prestasi juga menjadi penting untuk diketahuan guru agar materi yang akan
disajikan:
-
Dapat
disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
-
Bahkan siswa
yang memiliki tingkat prestasi yang homogeny dapat ditempatkan pada kelas yang
sama
-
Guru bisa
mempertimbangkan tingkat kelulusan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan
prestasi yang dimiliki siswa
d.
Tingkat
intelegensi
e.
Keterampilan
membaca
f.
Nilai ujian
g.
Kebiasaan
belajar/gaya belajar
h.
Minat belajar
i.
Harapan/keinginan
siswa
j.
Lapangan
kerja/cita-cita yang diinginkan
2)
Factor-faktor
social
a.
Usia
, memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan
pembelajaran yang dilakukan
b.
Kematangan
, secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai
macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat kesiapan siswa. kematangan
itu mencakup:
a)
Kematangan
prenatal usia 2,5-9 tahun
b)
Perkembangan
vital usia 2-3 tahun
c)
Kematangan
ingatan usia 2-3 tahun
d)
Kematangan
imajinasi usia 304 tahun
e)
Kematangan
pengamatan usia 4-6 tahun
f)
Kematanagn
intelektual usia 6-7 tahun
g)
Kematangan
pra remaja usia pubertas
h)
Kematangan
remaja sudah mulai merasakan kebutuhan untuk berteman.
c.
Rentangan
perhatian , rentang perhatian siswa adalah jumlah waktu normal siswa dapat
berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran.
d.
Bakat-bakat
istimewa , guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan
e.
Hubungan
dengan sesama siswa , bahwa interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan yang
lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan
hubungan emosional dan simpatik.
f.
Keadaan
sosial ekonomi , dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa mengalami
kendala dalam memenuhi kebutuhan sumber belajar.
3)
Manfaat
memahami karakteristik siswa :
a.
Memperoleh
gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan siswa
b.
Memperoleh
gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki siswa
c.
Menegtahui
latar belakang sosial kultural siswa
d.
Mengetahui
tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa
e.
Untuk
menentukan kelas-kelas tingkah laku awal
f.
Mengetahui
aspirasi dan kebutuhan siswa
g.
Mengetahui
tingkat penguasaan pengetahuan yang diperoleh siswa
h.
Mengetahui
tingkat penguasaan bahasa siswa
i.
Mengetahui
sikap dan nilai yang menjiwai pribadi siswa
4)
Langkah-langkah
analisis kemampuan awal siswa
a.
Melakukan
pengamatan kepada siswa secara perorangan
b.
Tabulasi
karakteristik perseorangan siswa
c.
Pembuatan
daftar strategi karakteristik siswa
Adapun
beberapa macam instrumen yang digunakan untuk memperoleh data tentang
karakteristik pebelajar yaitu : observasi, interview, kuesioner, inventori dan
tes.
Komentar
Posting Komentar